Ba’alan-Alan, Kritik Sosial Terhadap Moral Masyarakat

“Ba’alan-alan sama seperti panjat pinang, bedanya para pemain menggunakan topeng yang menggambarkan raut wajah sangar, lucu atau centil untuk mengundang tawa penonton”

Silahkan Bagikan / Share :
Baarak (arak-arakan, red) alan-alan menuju tempat panjat pinang (foto: TABIRkota/ferian sadikin)

BARABAI (TABIRKota) – Seniman di Desa Barikin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel), memiliki cara tersendiri untuk melakukan kritik sosial terhadap moral di masyarakat, salah satunya melalui kesenian ba’alan-alan.

Seniman Tradisi asal Barikin, Lupi Anderiani alias Upi mengatakan, kritik sosial dalam alan-alan dituangkan para pemain melalui topeng dan kostum.

“Ba’alan-alan merupakan kesenian peninggalan tutuha bahari (orang tua zaman dulu, red) yang masih eksis hingga sekarang,” katanya kepada Tabirkota.com, Senin (6/8).

Bukan untuk hiburan semata, ujarnya, kesenian tersebut juga sebagai kritik sosial terhadap krisis moral dalam bermasyarakat.

“Ba’alan-alan, masih dapat dijumpai di Pahuluan (meliputi wilayah enam kabupaten di Kalsel atau dikenal juga dengan sebutan Banua Anam, red), sebagai hiburan pada acara perkawinan dengan diiringi musik gamelan banjar,” ujarnya.

Ba’alan-alan sama seperti panjat pinang, bedanya para pemain menggunakan topeng yang menggambarkan raut wajah sangar, lucu atau centil untuk mengundang tawa penonton.

Para pemain juga seringkali menggunakan berbagai kostum, seperti daster , seragam anak sekolah, seragam hansip atau berpenampilan seperti wanita hamil.

Ba’alan-alan (foto: TABIRKota/ferian sadikin)

Upi menambahkan, permainannya cukup sederhana, pemain akan saling berebut berusaha memanjat, menarik dan menjatuhkan pemain lain untuk menggapai pucuk hingga durasi permainan berlangsung lama.

“Namun, setiap pertunjukan seni pasti ada penyelesaian masalah, para pemain ditawarkan untuk bekerjasama untuk meraih pucuk dengan perjanjian hadiah akan dibagi rata,” tambahnya.

Diakhir permainan, para pemain sepakat untuk bahu-membahu agar sampai ke pucuk batang pinang dengan membagi tugas, satu orang sebagai pemanjat dan yang lain menjadi pijakan.

Permainan ba’alan-alan bukan hanya menghibur melalui penampilan dan tingkah para pemainnya, tetapi juga terselip pesan moral serta kritik sosial. (fer)

Silahkan Bagikan / Share :

Pewarta: M Ferian Sadikin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Hadiri Peringatan Hari Anak Nasional, Bupati HST Harapkan Orang Tua Jadi Pahlawan Bagi Anak

Sen Agu 7 , 2023
“Orang tua, keluarga, guru, pemerintah hingga organisasi harus bergandengan bekerjasama untuk memenuhi hak-hak anak”

You May Like