Kejari Tabalong Hentikan Tuntutan Kasus Penganiyaan Lewat Restoratif Justice

“Penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif karena terpenuhi syarat antara lain, tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana”

Silahkan Bagikan / Share :
Kejari Tabalong menyerahkan surat Kejati Kalsel terkait penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice (foto: TABIRkota/saadilah)

TANJUNG (eMKa) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabalong berhasil mengajukan permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif atau Restorarive Justice (RJ) tindak pidana penganiyaan yang terjadi di Desa Kasiau, Kecamatan Murung Pudak pada 28 Februari lalu.

Kajari Tabalong, M Ridosan mengatakan, penghentian kasus tersebut berdasarkan surat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalsel Nomor: B-1251/O.3.1/Eoh.2/04/2022 terhadap tersangka Supandi alias Ikas (66), warga Kelurahan Belimbing Raya, Murung Pudak yang melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP.

“Kejari Tabalong mendapat persetujuan dari Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, Kejati Kalsel pada hari Kamis tanggal 21 April kemarin,” katanya saat memberi keterangan pers di Kantor Kejari setempat, Jum’at (22/4).

12 April lalu, Kejari Tabalong melakukan tahap II upaya mediasi perdamaian antara kedua belah pihak yang disaksikan suami korban, istri tersangka, kepala desa terkait serta penyidik dari Polres setempat.

Hasil mediasi ternyata korban memaafkan atas perbuatan Ikas kepadanya, karena korban dan tersangka tinggal berdampingan sehingga tidak enak bila terus terjadi pertengkaran dan dengan cara damai kedua belah pihak bisa rukun kembali.

Korban penganiyaan, Rusmiati (34) merupakan warga Desa Pantai Batung, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu sungai Tengah (HST) yang mendapat luka memar dibagian dada.

Peristiwa itu sendiri terjadi pada Kamis (28/2) pukul 20.00 Wita di sebuah warung di desa tersebut berawal korban yang menyalakan musik sangat keras.

Ikas yang merasa tertanggu kemudian mendatangi korban untuk menegur, namun tidak direspon sehingga mengakibatkan terjadi adu mulut yang membuat emosi tersangka.

Tersangka Ikas lalu mengambil sebilah kayu ulin dan memukul ke bagian dada sehingga baju korban robek.

Berdasarkan hasil visum dariRSUD H Badaruddin Kasim pada 5 Maret lalu, terdapat luka memerah dibagian dada koran dengan panjang kurang lebih 6 centimeter.

Menurut Kajari Tabalong, penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif karena terpenuhi syarat antara lain, tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana.

“Kemudian, tindak pidana hanya diancam dengan pidana denda atau pidana penjara tidak lebih dari 5  tahun serta harus ada perdamaian antara korban dengan tersangka serta nilai kerugian yang ditimbulkan tidak lebih dari Rp2,5 juta,” ujarnya.

Ia menambahkan, bila perlu adanya pemulihan keadaan, yaitu dengan ganti rugi dari tersangka kepada korban.

“Tersangka sudah ada memberikan uang pergantian untuk pengobatan korban sebesar Rp2 juta yang mana hal tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum,” tambahnya.

Kajari Tabalong sendiri saat memebeikan keterangan pers didampingi Kasi Intelijen, Amanda Adelina, Kasi Pidana Umum  (Pidum), Novitasari dan Jaksa Penuntut Umum, Mochammad Fachry. (saa)

Silahkan Bagikan / Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Mengenal Bandara-bandara di Kalimantan Selatan

Sab Apr 23 , 2022
"Selain Syamsudin Noor International Airport di Banjarbaru, Kalimantan Selatan juga memiliki beberapa bandar udara domestik, seperti bandara Bersujud, bandara Gusti Sjamsir Alam, dan bandara Warukin"

You May Like